Pages

Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abi Thalib

Sabtu, 03 Maret 2018

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



   Assalamu'alaikum Warhamatullahi Wabarakutuhu.




Beliau adalah Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abi Thalib, seseorang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi dan posisi yang luhur di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah putri dari ‘Ali bin Abi Thalib, khulafaurrasyidin yang keempat. Kakek beliau dari jalur ibu adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu anak Adam. Ibu beliau adalah Fathimah binti Muhammad, ratu wanita ahli surga.  Kedua saudara beliau adalah pemimpin pemuda penduduk surga dan penghibur hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Hasan dan Husain. Dalam lingkungan yang mulia inilah, Ummu Kultsum lahir, tumbuh, dan berkembang. Beliau adalah teladan bagi para muslimah yang tumbuh di atas dien, keutamaan, dan rasa malu.
Pada suatu ketika, amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu, khalifah rasyidin kedua, mendatangi ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk meminang putrinya. Akan tetapi, ‘Ali meminta kepada ‘Umar untuk menundanya karena Ummu Kultsun saat itu masih kecil. ‘Umar pun berkata, “Nikahkanlah aku dengannya wahai Abu Hasan karena aku melihat dirinya memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh perempuan yang lain.” Maka ‘Ali pun ridha dan menikahkan Umar dengan putrinya pada bulan Dzuqa’dah tahun 17 Hijriyah. Mereka hidup bersama hingga terbunuhnya ‘Umar. Dari pernikahan tersebut, mereka mempunyai dua anak yaitu Zaid bin ‘Umar Al-Akbar dan Ruqayyah binti ‘Umar.
Berikut ini adalah kisah tentang Ummu Kultsum yang sangat mengesankan. Suatu malam ‘Umar pergi untuk mengecek kondisi rakyatnya.  Ini merupakan kebiasaan beliau yang menunjukkan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya. Kala itu beliau melewati suatu desa di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara rintihan seorang wanita yang bersumber dari dalam sebuah gubuk. Di depan pintu gubuk tersebut, terdapat seorang laki-laki yang sedang duduk. ‘Umar mengucapkan salam kepada laki-laki tersebut dan bertanya tentang apa yang sedang terjadi. Laki-laki tersebut menjawab bahwa dirinya adalah seorang Arab Badui yang berharap mendapatkan kemurahan hati amirulmukminin. Lalu ‘Umar bertanya tentang wanita di dalam gubuk yang beliau dengar rintihannya. Laki-laki tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya sedang berhadapan dengan amirul mukminin sehingga dia menjawab, “Pergilah engkau. Semoga Allah merahmatimu sehingga engkau mendapatkan apa yang kau cari. Janganlah bertanya kepadaku tentang sesuatu yang tak berguna bagimu.”
‘Umar tak menyerah. Dia mengulang-ulang pertanyaan tersebut agar dia mampu membantu kesulitan yang dialami oleh wanita tersebut jika memungkinkan. Laki-laki tersebut akhirnya menjawab, “Dia adalah istriku yang hendak melahirkan dan tidak ada seorangpun yang dapat membantunya.” Umar pun pergi meninggalkan laki-laki tersebut dan segera kembali ke rumahnya. Beliau lalu masuk menemui istinya dan berkata, “Apakah engkau ingin mendapatkan pahala yang akan Allah limpahkan kepadamu?” Beliau menjawab dengan penuh antusias dan berbahagia dengan kabar gembira tersebut karena merasa memperoleh kehormatan karenanya, “Apakah wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai ‘Umar?” Maka ‘Umar menceritakan kejadian yang baru saja beliau alami. Kemudian Ummu Kultsum segera bangkit dan menyiapkan peralatan untuk membantu proses kelahiran dan kebutuhan bagi bayi. Sementara itu, amirul mukminin membawa kuali yang berisi mentega dan makanan. Beliau berangkat bersama istrinya menuju gubuk.
Sesampainya di gubuk, Ummu Kultsum masuk dan membantu wanita yang hendak melahirkan. Beliau bekerja dengan semangat seorang bidan. Sementara itu amirulmukminin duduk bersama laki-laki tersebut sambil memasak makanan yang beliau bawa. Tatkala istri laki-laki tadi melahirkan anaknya, Ummu Kultsum secara spontan berteriak dari dalam gubuk, “Sampaikan kabar gembira kepada temanmu wahai amirul mukminin bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki.” Hal ini membuat laki-laki Badui tersebut terperanjat karena ternyata seseorang yang sedang memasak dan meniup api di sampinya adalah amirul mukminin.


Wanita yang melahirkan pun juga terkejut ketika menyadari bahwa bidan yang menolongnya di gubuk tersebut adalah istri amirul mukminin. Masyarakat yang hadir juga dibuat takjub oleh peristiwa tersebut, yang mana seorang kepala Negara dan istrinya membantu seorang laki-laki Arab Badui beserta istrinya.
Setelah berselang beberapa waktu lamanya, ‘Umar dibunuh oleh tangan yang berlumuran dosa lagi menyimpan dengki terhadap Islam. Dengan demikian, jadilah Ummu Kultsum sebagai seorang janda.Tatkala Ummu Kultsum wafat, Ibnu ‘Umar menshalatinya. Demikian pula putranya yakni Zaid yang berdiri di sampingnya. Mereka bertakbir sebanyak empat kali.
Ya Allah, ridhailah Ummu Kultsum, seorang bidan muslimah.

Sumber : Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah)karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hlm. 162-164. (Muslimah.or.id)

Semoga bermanfaat ya postingan ku kali ini! Tunggu postingan ku selanjutnya!
Seeyou, byebye!❤

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Fathimah binti Al-Khaththab

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



Assalamu'alaikum Warhamatullahi Wabarakutuhu.






Beliau adalah Fathimah binti Al-Khaththab bin Naufal bin ‘Abdul ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdullah bin Qarath bin Adi bin Ka’ab. Beliau termasuk wanita yang terhormat, memiliki wajah yang cantik dan tinggi, termasuk keluarga Quraisy yang paling mulia dan paling kuat, lemah lembut, dan halus perangainya.
Fathimah radhiyallahu ‘anha tumbuh dalam keluarga Khaththab bin Naufal Al-Makhzumi Al-Quraisyi yang dikenal keutamaan dan kemuliannya, memiliki kedudukan dan nasab yang terpandang. Bapaknya juga dikenal sebagai orang yang dapat mendidik anak-anaknya dengan keutamaan-keutamaan menurut orang Arab, terutama dalam hal kekuatan dan membentuk kepribadian.
Tatkala Fathimah telah sampai usia dewasa dan telah balig maka Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Naufal melamarnya, kemudian mereka hidup bersama dengan kehidupan suami istri yang paling harmonis dalam keserasian, saling memahami, dan saling menghormati secara timbal balik.

Sa’id, suami Fathimah masuk Islam melalui perantara sahabat yang agung bernama Khabbab bin Ar-Art radhiyallahu ‘anhu, kemudian beliau bawa menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah, menyatakan keesaan Allah, dan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian Sa’id kembali ke rumahnya untuk menceritakan pertemuannya dengan Khabbab serta perjumpaan beliau dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjelaskan kepada Fathimah tentang agama yang dia kenal dan dikenal sebelumnya. Fathimah mendengar penuh antusias dengan anggota badannya, perasaan, dan akalnya. Belum lagi sang suami menyelesaikan pembicaraannya, Fathimah radhiyallahu ‘anha telah mengikrarkan syahadatain sehingga beliau terhitung sebagai wanita yang awal masuk Islam.
Setelah itu, setiap hari Khabbab bin Al-Art mendatangi rumah mereka secara rutin dan memberitahukan ayat-ayat yang baru turun. Beliau ajarkan kepada keluarganya tentang Dienullah sehingga tumbuhlah dalam hati mereka semangat untuk beriman.
Mereka semua menginginkan agar berita keislamannya tidak tersebar karena khawatir dengan kekejaman ‘Umar yang dikenal dengan orang yang paling keras sikapnya terhadap kaum muslimin dan yang paling getol dalam menghalangi dakwah Islam di tanah airnya.
Pada suatu hari, ‘Umar bin Khaththab melangkahkan kakinya menuju rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh nampak sekali kemarahan pada kedua matanya. Tiba-tiba dia bertemu dengan seorang laki-laki dari Bani Zahrah dan bertanya kepada ‘Umar, “Hendak kemana engkau wahai ‘Umar? Aku melihat engkau dalam keadaan marah, geram, dan menghunus pedang.” Umar menjawab, “Aku hendak membunuh Muhammad karena dialah orang yang telah menghancurkan urusan orang-orang Quraisy, yang menganggap bodoh angan-angan mereka, yang mencela agama mereka, dan mencerca tuhan-tuhan mereka.” Maka laki-laki tadi berkata, “Demi Allah, engkau telah teperdaya oleh dirimu sendiri wahai ‘Umar. Apakah engkau mengira Bani Abdi Manaf akan membiarkan dirimu berjalan di muka bumi, padahal engkau telah membunuh Muhammad? Mengapa engkau tidak pulang saja kepada keluargamu dan membereskan urusan mereka?” ‘Umar bertanya, “Keluargaku yang mana?” Laki-laki tersebut menjawab, “Adik iparmu, putra pamanmu, Sa’id bin Zaid bin ‘Amru beserta adikmu Fathimah binti Al-Khaththab, sungguh demi Allah mereka berdua telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad.” Bertambah geramlah ‘Umar sehingga dia berkata, “Benarkah mereka telah masuk Islam? Jika memang benar, sungguh aku akan membunuh mereka berdua dengan cara yang sadis.”
Maka kembalilah ‘Umar menuju rumah adik dan iparnya. Sungguh dia telah berada dalam puncak kemarahannya sehingga tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Tatkala dia sudah dekat dengan pintu rumah adik perempuannya, yakni Fathimah radhiyallahu ‘anha sementara mereka ada di dalam rumah sehingga ‘Umar mendengar suatu ucapan yang diulang-ulang namun tidak begitu jelas, kemudian dia melongok sedikit dan dia masuk rumah sedangkan suaranya menggelegar memanggil adiknya.
Ketika itu, Khabbab bin Al-Art berada di dalam rumah tersebut sedang membacakan kepada Sa’id dan Fathimah sebagian ayat dari Al-Qur`an Al-Karim. Setelah mereka mendengarkan suara ‘Umar tersebut, Khabbab bersembunyi di salah satu kamar dalam rumah tersebut. Fathimah segera mengambil lembaran yang bertuliskan ayat-ayat Al-Qur`an dan beliau sembunyikan di tangannya untuk menghindari pandangan ‘Umar terhadapnya.
Tatkala ‘Umar masuk, dia berkata, “Suara apa yang aku dengar tadi?” Mereka berdua menjawab, “Bukan suara apa-apa.” Umar berkata, “Benar, demi Allah aku telah mendapat kabar bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad.” Seketika itu juga ‘Umar menyerang iparnya, yaitu Sa’id bin Zaid dan menghajarnya. Maka Fathimah mencoba menghalangi ‘Umar agar menghentikan perlakuannya terhadap suaminya sehingga beliau berdiri di antara ‘Umar dan suaminya. Akan tetapi, justru ‘Umar memukul Fathimah.
Ketika ‘Umar telah berbuat demikian maka mereka berdua berkata, “Benar. Sungguh kami berdua telah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka lakukanlah apa yang hendak kamu lakukan terhadap kami.”
Ketika melihat darah adik perempuannya yang telah dia pukul, menjadi ibalah hatinya, lalu berkata, “Berikanlah lembaran yang telah aku dengar tatkala kalian baca tadi. Aku hendak melihat seperti apa ajaran yang dibawa oleh Muhammad.” Fathimah berkata, “Kami khawatir jika engkau akan merusaknya.” ‘Umar berkata, “Jangan khawatir.” Dia bersumpah kepada Fathimah bahwa dia akan mengembalikannya setelah membacanya. Melihat hal itu, Fathimah mengharap keislaman ‘Umar, beliau berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis karena kemusyrikanmu, sedangkan ini tidak boleh disentuh, kecuali oleh orang yang suci.” Maka ‘Umar beranjak untuk mandi, lalu Fathimah memberikan lembaran tersebut yang ternyata tertulis surat Thaha. Mulailah ‘Umar membaca hingga manakala sampai pada ayat,
… Agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang dia usahakan.” (QS. Thaha : 15)
Berkatalah ‘Umar, “Alangkah bagusnya perkataan ini. Alangkah indahnya ia. Alangkah mulianya ia.”
Manakala Khabbab mendengar apa yang dikatakan oleh ‘Umar maka Khabbab keluar dari persembunyiannya kemudian berkata, “Wahai ‘Umar sungguh aku berharap kepada Allah agar menjadikan engkau sebagai orang yang didoakan Nabi-Nya karena sesungguhnya aku mendengar bahwa kemarin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,
Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan masuk Islamnya Abu al-Hakam bin Hisyam atau ‘Umar bin Khaththab.
Demi Allah wahai ‘Umar.” Maka ‘Umar berkata, “Tunjukkanlah kepadaku dimanakah Muhammad berada, sebab aku hendak menemuinya untuk masuk Islam.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,
“Ya Allah kuatkanlah Islam dengan salah seorang yang Engkau cintai, apakah Abu Jahal bin Hisyam ataukah ‘Umar bin Khaththab.”
Khabbab berkata, “Dan ternyata yang lebih disukai Allah di antara keduanya adalah ‘Umar.”
Keluarlah ‘Umar bin Khaththab dari rumah adiknya menuju rumah yang ditunjukkan oleh Khabbab bin Al-Art dimana dia akan menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Akan tetapi, dia tidak bermaksud untuk membunuhnya ataupun menghalangi beliau dari dakwah Islam, melainkan hendak menggabungkan diri dengan kelompok orang-orang yang beriman tersebut sehingga keislamannya menjadikan Islam berwibawa dan mendapat kemenangan sebagaimana yang didoakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Begitulah sejarah telah merekam bahwa Fathimah binti Al-Khaththab radhiyallahu ‘anha memiliki sikap iman yang agung, tentang bagaimana dia menawarkan Islam kepada ‘Umar dan bagaimana pula tanggapan ‘Umar yang perkasa terhadap sikapnya.
Kemudian Fathimah hidup dengan sisa-sisa umurnya di dalam naungan Islam, minum dari sumbernya yang jernih, dan menyampaikan hadits yang telah dia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Cukuplah menjadi kebanggan bagi Fathimah. Dan cukuplah hal itu sebagai pelajaran bagi kehidupan kita yang mana sejarah akan senantiasa mengingatkan kita tentang kisah masuk Islamnya ‘Umar bin Khaththab. Semoga Allah meridhainya dan meridhakannya.

Sumber : Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah)karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hlml. 157-161. (Muslimah.or.id)

Semoga bermanfaat ya postingan ku kali ini! Tunggu postingan ku selanjutnya!

Seeyou, byebye!❤

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Siapakah Syahidah Pertama dalam Islam?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



Assalamu'alaikum Warhamatullahi Wabarakutuhu.







Beliau adalah Sumayyah binti Khayyat, budak perempuan milik Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir lalu keduanya menetap di Mekah. Oleh karena statusnya sebagai budak dan suaminya sebagai pendatang maka tak ada satu pun kabilah yang bersedia membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Beliau hidup sebatang kara sehingga aturan yang berlaku pada masa Jahiliyah saat itu menyudutkan posisi beliau.
Kala itu, ketika Yasir tiba di Mekah, beliau menyerahkan perlindungannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup di bawah kekuasaan Abu Hudzaifah. Akhirnya beliau dinikahkan dengan budak Abu Hudzaifah bernama Sumayyah. Beliau hidup tenteram bersamanya. Tak lama kemudian, lahirlah ‘Ammar dan ‘Ubaidullah dari pernikahan keduanya.
Tatkala ‘Ammar hampir dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berpikirlah ‘Ammar bin Yasir sebagaimana yang dipikirkan oleh penduduk Mekah. Kesungguhan beliau dalam berpikir dan lurusnya fitrah beliau, akhirnya menggiring beliau untuk memeluk dienul Islam.
‘Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan kelezatan iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan peristiwa yang beliau alami, yaitu pertemuannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ‘Ammar menawarkan kepada kedua orang tuanya untuk mengikuti agama yang dibawa Muhammad. Gayung bersambut, Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh berkah tersebut.  Bahkan keduanya mengumumkan keislamannya secara terang-terangan. Oleh karena keduanya merespon positif dien ini dengan segera maka Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.
Sejarah agung bagi Sumayyah bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar Islam terbit untuk pertama kalinya.
Keislaman keluarga Yasir lambat laun diketahui oleh Bani Makhzum karena mereka tidak memungkiri bahwa mereka telah mengikuti agama Muhammad. Bahkan mereka mengikrarkan keislamannya dengan yakin sehingga orang-orang kafir menentang dan memusuhi mereka.
Bani Makhzum segera menangkap Yasir beserta keluarganya dan menyiksa mereka dengan berbagai macam siksaan agar mereka murtad dari agamanya. Bani Makhzum menjemur mereka di padang pasir tatkala matahari sangat terik dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat lalu menaburinya dengan pasir yang sangat panas. Kemudian mereka meletakkan sebongkah batu yang sangat berat di atas dada Sumayyah. Akan tetapi, tidaklah terdengar rintihan atau pun ratapan, melainkan ucapan ‘Ahad… Ahad…’ . Beliau mengulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, ‘Ammar, dan Bilal ketika mereka disiksa dengan siksaan yang keji.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut tengah disiksa dengan kejam maka beliau menengadah ke langit seraya berseru,
اِصْبِرَا آلَ يَاسِرٍ ،فَإِنَّ مَوْعِدَكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ
“Bersabarlah wahai kelurga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak bab Mengenal Sahabat (III/383).
Sumayyah mendengar seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sehingga beliau bertambah tegar dan optimis dengan kewibawaan imannya. Beliau mengulang-ulang dengan lantang, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”


Begitulah, Sumayyah telah mencicipi manisnya iman sehingga kematian dalam rangka memperjuangkan akidah adalah hal yang remeh bagi beliau. Hatinya telah dipenuhi dengan keagungan Allah Jalla Jalaluh sehingga beliau menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang zalim. Mereka tak akan kuasa menggoyahkan keimanan dan keyakinan Sumayyah sedikit pun.
Di kala Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah menancapkan dalam dirinya untuk meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama suaminya.
Tatkala orang-orang kafir telah putus asa untuk mengeluarkan Sumayyah dari agama Islam maka musuh Allah, Abu Jahal melampiaskan keberangannya dengan menusukkan sangkur yang ada di genggamannya kepada Sumayyah. Maka keluarlah nyawa beliau dari raganya yang beriman lagi suci  sehingga beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan teladan yang mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Beliau telah mengerahkan semua yang beliau miliki dan menganggap ringan kematian dalam rangka mempertahankan imannya. Beliau telah mengorbankan jiwanya yang berharga demi meraih keridhaan Rabbnya, “Dan mendermakan jiwa adalah puncak kedermawanan tertinggi.”

Sumber : Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah)karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hlm. 169-171.

Semoga bermanfaat ya postingan ku kali ini! Tunggu postingan ku selanjutnya!

Seeyou, byebye!❤

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

    Muslimah, Teruslah Menuntut Ilmu


    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



    Assalamu'alaikum Warhamatullahi Wabarakutuhu.

    Umar berkata, “Belajarlah sebelum kalian terhormat.” Para sahabat tidak segan-segan belajar saat usia mereka sudah senja.


    Jabatan dan kedudukan kadang bisa membuat seseorang enggan untuk belajar. Karena orang yang memiliki kedudukan mulia seringkali dihalangi oleh sifat sombong dan angkuh untuk duduk bersama pelajar. Oleh karena itu, Imam Malik berkata mengenai aib para hakim, “Ketika seorang hakim turun jabatan, dia tidak mau lagi ke tempat dimana ia menimba ilmu.” Imam Syafi’i menegaskan, “Jika sudah terlanjur uzur, dia akan kehilangan banyak ilmu.” Abu Ubaid menegaskan, “Artinya, belajarlah ketika kalian masih kecil, sebelum menjadi seorang terhormat. Sebab, kesombongan akan menghalangi kalian untuk belajar dari orang yang lebih rendah yang akan menyebabkan kalian tetap bodoh.”
    Ukhti, oleh karena itu seorang muslimah hendaknya memanfaatkan waktu kecil di masa kecil dan remajanya untuk menuntut ilmu, sebeum dia menduduki jabatan tinggi yang mungkin akan membuatnya enggan untuk menuntut ilmu dan duduk di hadapan para pengajar wanita.
    Salah satu syarat dan etika untuk meraih kesuksesan dalam menuntut ilmu adalah tidak sombong pada ilmu dan guru, dan tidak meremehkan guru. Bersikaplah tunduk dan patuh serta menyimak nasihat guru dengan serius seperti orang sakit yang mendengarkan nasihat dokter dengan sungguh-sungguh. Seorang wanita harus bersikap rendah hati kepada gurunya, mencari pahala serta kemuliaan mengabdikan diri kepada gurunya.
    Asy-Sya’bi menceritakan bahwa suatu ketika, Zaid bin Tsabit mendirikan shalat jenazah atas seorang mayit. Setelah selesai, keledainya menghampiri untuk dikendarai. Mendadak Ibnu Abbas datang dan segera menuntun menyiapkan kendaraan itu untuk Zaid. Zaid pun berkata, “Tidak usah wahai sepupu Rasulullah.” Ibnu Abbas berkata, “Beginilah cara kami memperlakukan orang berilmu dan orang terhormat.” Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangan Ibnu Abbas seraya berkata, “Beginilah cara kami memperlakukan keluarga Rasulullah.” Intinya, ilmu hanya bisa diperoleh dengan sikap rendah hati dan tekun menyimak.



    Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikannya,” (QS. Qaaf ayat 37).

    Sumber: Kiat Menjadi Muslimah Seutuhnya/karya: Adnan Tharsyah/Penerbit: Senayan Publishing

    (islampos/muslimahzone.com)

    Semoga bermanfaat ya postingan ku kali ini! Tunggu postingan ku selanjutnya!
    Seeyou, byebye!❤

    Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

    Kenapa Remaja Saling Jatuh Cinta?


    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



    Assalamu'alaikum Warhamatullahi Wabarakutuhu.

    Zaman sekarang sudah menjadi hal yang sangat biasa ketika para remaja saling jatuh cinta. Mereka saling mengumbar kemesraan di depan khalayak seolah ini adalah sesuatu yang wajar dan tidak berdosa. Lalu bagaimana sesungguhnya Islam memandang hal ini? Yuk, langsung baca!




    (Hijabers In Love)

    Berikut penjelasannya menurut DR. Zakir Naik:

    Jatuh cinta terjadi awalnya ketika seseorang melanggar hukum hijab. Terkadang kita berpikir, “Bagaimana mungkin gadis ini jatuh cinta pada pemuda ini? Si pemuda sangat jelek.” atau “Gadisnya sangat jelek.”

    Sebenarnya ketika Anda berbicara, Anda mulai menyukai hal-hal yang mungkin aneh. Jadi interaksi yang terlalu banyak, interaksi yang tak perlu antara lawan jenis harusnya dihindari. Bukan berarti Anda tidak boleh bicara, tapi jika Anda bicara dengan lawan jenis Anda harus menundukkan pandangan.

    Jadi semua ini terjadi karena melanggar aturan hijab, artinya si gadis tidak mengenakan pakaian yang benar, pakaian islami, atau si pemuda juga demikian. Atau mungkin mereka mengenakan pakaian islami tapi hijab ternyata bukan hanya soal pakaian. Pakaian barulah satu aspek saja dari hijab. Dari hijab pakaian misalnya, ia haruslah longgar, tidak menyolok perhatian, tidak menarik perhatian lawan jenis. dan juga tidak berpakaian seperti non muslim.

    Selain dari sisi pakaian, cara Anda berbicara, cara Anda berjalan, cara Anda berperilaku, cara Anda berpikir, semua ini termasuk dalam berhijab. Jika hanya memakai hijab (pakaian) tapi Anda tidak berbicara dengan benar, berarti Anda belum sepenuhnya berhijab.

    Dan seharusnya antara lawan jenis, tidak boleh ada terlalu banyak kasih sayang. Jadi meskipun Anda menggunakan hijab, tapi terlalu banyak kedalaman dalam berinteraksi, nada lembut, dan terlalu banyak cinta dalam bicara Anda, maka cara bicara itu tidak islami. Ini bukan berarti Anda harus menjadi ‘jutek’. Namun bersikaplah normal. Begitu juga dengan cara Anda berjalan, cara Anda berpikir semuanya harus islami. Jadi ketika hijabnya dilanggar pada aspek-aspek ini, ada kemungkinan besar rasa jatuh cinta itu akan terjadi.

    Begitulah Allah telah menciptakan kita. Jika Anda terus berbicara dengan lawan jenis, namun tidak ada yang terjadi pada Anda, maka Anda mungkin harus pergi ke psikiater, karena itu berarti perkara yang tidak normal pada manusia. Dalam diri manusia pasti ada rasa yang muncul. Jika tidak ada berarti ada sesuatu yang salah dengan Anda.

    Maka jika Anda sudah mengikuti prinsip islami yaitu menundukkan pandangan, berbicara seperlunya, dan tidak ada yang terjadi maka itu tidak mengapa dan Anda termasuk manusia normal. Anda terus berbicara, berjabat tangan, menyentuh dan sebagainya, inilah alasan mengapa Anda jatuh cinta.

    Dalam kasus saat ini, di kampus dan di sekolah, kriteria cinta amat jauh dari kriteria Islam. 99,9 % cinta yang terjadi tidak sesuai Islam. Jika salah satu dari mereka shalih, maka seharusnya salah satu dari mereka akan berhenti. Atau mungkin saja ada seseorang yang shalih tapi tidak begitu shalih walaupun lebih baik dari yang lain sehingga dia jatuh cinta, itu mungkin saja. Dia mungkin tidak dapat menahan rasanya meskipun berhijab. Namun bisa jadi ini karena mereka tidak menundukkan pandangan, jadi para pemuda dan gadis saling jatuh cinta.



    (KartunMuslim)


    Ingatlah, tidak ada cinta sebelum pernikahan dalam Islam. Dengan begitu maka sebenarnya lebih penting untuk mencintai gadis yang Anda nikahi daripada menikahi gadis yang Anda cintai.

    Sering terjadi romansa seperti Layla dan Majnun, Romeo dan Juliet maka banyak orang-orang berkata, “ Andai saja Layla dan Majnun atau Romeo dan Juliet sampai menikah, mereka akan tahu banyak masalah rumah tangga dan mereka pasti juga akan bertengkar.”




    Sumber : (fauziya/muslimahzone.com)




    Semoga bermanfaat ya postingan ku kali ini! Tunggu postingan ku selanjutnya!

    Seeyou, byebye!❤

    Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

    Jaga Aurat di Depan Kamera

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



    Assalamu'alaikum Warhamatullahi Wabarakutuhu.

    Apa kamu wanita yang gemar selfie? Ya, selfie rasanya sudah mendarah daging dikalangan muslimah, apalagi kalangan remaja. Dimanapun mereka berada, selfie pasti selalu ada di dalamnya. Tahukah kalian  bahwa selfie berdampak negatif? Yuk, langsung baca!






    Pesatnya perkembangan teknologi di era digital membawa perubahan perilaku pada manusia, tak terkecuali remaja dan kaum Muslimah umumnya. Sifat narsis misalnya, begitu menggejala. Mereka penuh percaya diri tampil gaya dan centil di depan kamera.

    Remaja hingga ibu-ibu muda, hobi berpose di depan kamera dengan aneka desain busana Muslimah yang heboh oleh aksesoris di sana-sini. Ada komunitas para fashion bloger yang sengaja mengekspose kecantikan cara berbusana Muslimahnya di dunia maya.

    Ada pula panduan buku-buku tutorial cara pemakaian busana Muslimah dengan foto-foto Muslimah modis dan stylish. Itu masih tak seberapa, karena yang paling memprihatinkan adalah hobi remaja buka-bukaan aurat di depan kamera.

    Ya, kenakalan remaja di era digital ini agaknya semakin menjadi. Selain hobi main games yang menghabiskan waktu, bermedia-sosial yang menyebabkan mereka ‘setengah autis’ alias sibuk dengan dunianya sendiri,chatting tak kenal waktu, pacaran dan mesum di dunia maya, pose seksi, hingga bergaya (maaf) tanpa busana di depan kamera.

    Yang terakhir ini, mungkin hanya iseng, sekadar untuk seru-seruan. Toh hanya dilihat sendiri, disimpan di HP pribadi. Itu alasan mereka. Mereka tak sadar bahwa hal itu berisiko tinggi. Sungguh bahaya jika gambar tidak layak itu akhirnya jatuh ke tangan yang tidak berhak.

    Pasalnya, tidak ada jaminan, gagdet yang menjadi media berfoto ria itu tidak akan berpindah tangan. Bukankah sudah biasa di antara kita saling meminjam handphone saat kehabisan pulsa, misalnya? Atau pinjam kamera digital atau handycam untuk keperluan dokumentasi. Saling meminjam tablet untuk sekadar ikut memainkan aplikasi, meminjam notebook atau laptop. Bagaimana jika memory card dalam perangkat HP, kamera atau handycam itu tersimpan foto-foto tak senonoh dan disalahgunakan oleh yang meminjam?

    Demikian pula jika suatu saat terjadi keteledoran atas perangkat digital tersebut. Seperti tertinggal di kendaraan umum, jatuh di jalan, hilang karena dicuri, dirampas atau dirampok, dsb. Bukan tidak mungkin pose-pose di perangkat tersebut akan tersebar luas. Kalau sudah begitu, yang ada hanyalah rasa malu luar biasa. Bahkan, seketika nama baik pun hancur berantakan.

    Sungguh sangat disesalkan jika peningkatan kecanggihan teknologi, malah ditandai dengan hilangnya urat malu manusia. Padahal perangkat itu diciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia dan mendongkrak kualitas hidup.

    Karena itu, kita harus bijak memanfaatkan perangkat digital itu hanya untuk yang bermanfaat semata. Untuk hal-hal positif. Bukan tidak boleh berfoto-ria, karena memang itu fungsi ditemukannya kamera. Bahkan, foto-foto menjadi bagian penting dari dokumentasi sejarah. Foto atau rekaman video bahkan bisa bercerita banyak hal.

    Namun, satu poin penting dalam pemanfaatan perangkat digital ini adalah: jaga aurat di depan kamera. Laki-laki maupun perempuan. Bukan hanya tidak bugil, tapi juga tidak berfoto seksi atau membuka aurat sekalipun bukan bagian tubuh yang paling vital. Ya, jika aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapan tangan, maka cukup itu pula yang kita tampilkan di depan kamera. Ini untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Dunia ini penuh orang jahat. Apalagi kejahatan di dunia maya, tidak kalah kekejamannya.


    (Hijab Alila)



    Nah, mulai saat ini, menjaga aurat bukan hanya di hadapan lawan jenis yang bukan mahram di dunia nyata. Juga, menjaga aurat saat di depan kamera. Jadikan ‘kamera’ ibarat lawan jenis yang membentuk rasa malu pada diri kita sehingga tidak bermain buka-bukaan.

    Para orang tua, khususnya ibu-ibu (muda) harus memberi contoh dan mengawasi putra-putrinya dalam pemakaian perangkat digital ini. Jangan sampai moral anak-anak dan remaja semakin merosot di tengah gegap gempita kemajuan teknologi.

    Sekalipun pemanfaatan perangkat digital mubah hukumnya, namun perlu dicamkan agar jangan sampai menjadi lumbung dosa. Ya, jangan sampai perangkat digital yang kita beli mahal-mahal sebagai kebanggaan di dunia ini, menjadi kehinaan di akhirat kelak. Naúzubillahiminzalik.




    Sumber : Asri Supatmiati, Penulis buku-buku remaja (fauziya/muslimahzone.com)




    Semoga bermanfaat ya postingan ku kali ini! Tunggu postingan ku selanjutnya!

    Seeyou, byebye!❤

    Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

    Jadilah Perempuan Yang Berharga

    Rabu, 28 Februari 2018


    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



    Assalamu'alaikum Warhamatullahi Wabarakutuhu.

    Sudah berhargakah kita sebagai perempuan? Bagaimana caranya agar menjadi perempuan yang berharga? Yuk, langsung baca!






    Perempuan adalah tiang negara. Kalimat ini mungkin sudah tak asing lagi bagi kamu semua. Di tangan perempuan, baik buruknya suatu negara ditentukan. Laki-laki baik akan mudah menjadi buruk oleh goda rayu seorang perempuan. Tentu selalu ada pengecualian, khususnya bagi laki-laki yang shalih maka bujuk rayu itu tak akan mempan. Tapi di sini kita berbicara tentang sesuatu secara umum. Contoh sederhana tentang kasus ini banyak di sekitar kita. Karena suatu negara itu miniaturnya ada pada institusi keluarga, maka yuk kita lihat cerminnya pada kejadian sehari-hari.
    Di tangan ibu yang baik, seluruh keluarga bisa selamat dan menjadi contoh yang baik. Masih ingat kisah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun? Suaminya durhaka terhadap Allah, tapi Asiyah mampu bertahan menjadi sosok yang salihah. Bahkan, di tangan perempuan inilah sosok Nabi Musa selamat atas izin Allah tentunya. Padahal pada saat itu, hampir semua bayi berjenis kelamin laki-laki dibunuh semua atas perintah Firaun.
    Sebaliknya, banyak kisah para pejabat yang korupsi (mayoritas mereka adalah bapak-bapak) tak bisa dilepaskan dari peran istrinya juga. Perempuan yang selalu silau dengan harta menyebabkan laki-laki berusaha memenuhinya. Seandainya si istri adalah sosok shalihah, maka harta yang dibawa pulang suaminya, tak semata-mata ia terima dengan senang hati. Seharusnya ia waspada karena uang hasil korupsi berpotensi mencelakakan semuanya–di dunia, terlebih di akhirat kelak. Naudzubillah.
    Nah, andai semua perempuan bersikap seperti ini, tentu tatanan masyarakat akan jauh lebih baik. Suami bekerja dengan tenang karena tidak terteror dengan permintaan istri yang iri dengan perhiasan tetangga. Anak pun tumbuh dengan baik karena dididik oleh sosok ibu teladan yang shalihah. Indah, bukan? Sosok shalihah seperti ini tak muncul secara sim salabim. Tapi ia hadir dengan pembinaan yang baik utamanya pemahaman keislaman yang baik pula. Sejak muda malah.
    Yang muda yang hura-hura
    Sebagian remaja mungkin berpikir bahwa belum saatnya mereka memikirkan masa depan. Mereka masih asik dengan dunia mereka yang tak jauh dari pacaran, window shopping alias jalan-jalan ke mal, hura-hura, pesta sana-sini dan dugem. Bila diajak serius berpikir tentang masa depan, utamanya hidup berumah tangga dan calon ibu, mereka pasti pada enggan. Anehnya, pacaran demen tapi serius menikah ogah. Inilah gambaran rusaknya kehidupan remaja kita yang maunya hura-hura tanpa disertai tanggung jawab.
    Yang namanya pacaran, tak ada tanggung jawab menyertai. Bila terjadi perselisihan, mereka dengan enaknya bisa pulang ke rumah masing-masing atau putus dengan enteng. Toh, tak ada yang dirugikan. Begitu selalu yang menjadi dalih. Nah, kamu kaum cewek, jangan pernah mau diperlakukan seperti ini. Nilai dirimu itu jauh lebih berharga daripada dipacari dari satu cowok ke cowok yang lain. Bila memang benar mereka itu cowok sejati, minta mereka datang untuk meminangmu dan serius menikahimu. Bila menolak, itu artinya mereka hanya menjadikan kamu sebagai ‘tester’ saja. Ihh…naudzubillah minddzalik!
    Kamu boleh muda, tapi itu tak secara serta-merta menjadikan kamu berhak untuk berhura-hura dan menyia-nyiakan hidupmu. Masa mudamu yang cuma sekali ini (eh, masa anak-anak dan masa tua juga sekali ya? Hehehe), adalah momen untuk menempa diri menjadi sosok muslimah berkualitas. Di tanganmulah nasib bangsa ini berada. Warna bangsa ini sepuluh tahun kelak, tergantung kamu akan mewarnainya dengan apa. Masa’ iya, negeri yang sudah porak poranda karena tingginya tingkat korupsi dan campur tangan luar negeri ini akan kamu biarkan terus begini? Kalau kamu masih terkategori muslimah yang punya iman dan nurani, pasti akan ada langkah berarti yang harus segera dilakukan untuk memutus rantai kebobrokan ini.
    Menempa diri dengan Islam
    Kebaikan itu hanya dengan Islam saja. Ini harus diyakini dengan sepenuh hati oleh para calon tonggak peradaban alias para muslimah. Sedari masih gadis, persiapan itu telah dilakukan. Bukan dengan berpacaran atau bertabaruj untuk menarik perhatian lawan jenis, melainkan dengan mengasah keimanan dan wawasan akan sosok istimewa ini.
    Bila kamu berasal dari keluarga yang sudah terbasuh dengan Islam secara baik sejak kecil, maka bersyukurlah. Kamu hanya tinggal melanjutkan pembiasaan dari keluarga apa-apa yang baik itu. Tapi bila kamu mengenal Islam dengan baik baru di usia SMA atau bahkan kuliah, jangan berkecil hati. Tak pernah ada kata terlambat untuk perbaikan diri. Tekadkan dalam hatimu bahwa kamu ingin berubah dengan Islam saja sebagai tolok ukurnya.
    Berubah untuk pertama kali itu tak mudah. Terapkan tombo ati yang ada lima perkaranya itu. Mulai dari membaca al-Quran plus maknanya. Akan jauh lebih baik bila kamu ‘berguru’ ke orang yang mumpuni dalam ilmu al-Quran. Ibarat baru belajar jalan, ada yang menuntun agar tidak tersesat. Lalu yang kedua adalah membiasakan salat malam atau tahajud. Berat memang kecuali bagi mereka yang benar-benar niat untuk mendekatkan diri pada Rabb-nya. Bila tak bisa setiap hari, mulailah dengan seminggu sekali, lalu dua kali seminggu. Begitu seterusnya hingga kamu konsisten untuk mendirikannya setiap malam.
    Nah, yang ketiga adalah perbanyak zikir. Berzikir itu bukan hanya lisan tapi juga hati serta amalan. Maksudnya mulai dari mulut, hati dan perbuatan itu hanya hal-hal baik saja yang dilakukan. Keempat adalah, lakukan puasa sunah. Kalau puasa Ramadhan, sudah pasti dong ya. Kemudian yang terakhir serta yang penting adalah berkumpul dengan orang-orang yang shalih. Mereka inilah yang akan mengingatkanmu bila kamu futur (down) atau lalai.
    Pahami hak dan kewajiban
    Jadi muslimah itu  harus cerdas. Ini harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Muslimah cerdas itu adalah muslimah yang mengetahui hak dan kewajiban dirinya baik di hadapan manusia (suami, orang tua, tetangga, saudara, dll) ataupun di hadapan Allah. Karena itu muslimah wajib untuk paham hukum syara’ (syariat Islam). Dengan memahami hukum syara’, itu artinya muslimah telah menapakkan langkah untuk menjadi tonggak peradaban.
    Tempa dirimu dengan hal-hal yang sekarang ini mulai dilupakan oleh para muslimah. Belajar memasak dengan membantu mama, misalnya. Tak usah yang ribet, cukup yang sederhana sekadar bisa membuatmu mandiri. Mencuci baju, terutama ‘daleman’. Banyak loh di kalangan muslimah yang ternyata tak bisa dan tak terbiasa mencuci ‘dalemannya’ sendiri. Bila pun terpaksa melakukan sendiri, maka itu bisa dibilang kurang bersih. Ingat wahai muslimah, kebersihan itu sebagian dari iman. Lagipula ini juga penting karena berkaitan dengan najis tidaknya pakaian dalam itu ketika kamu pakai.
    Kamu boleh, bahkan harus berprestasi di bidang keilmuan. Tapi alangkah jauh lebih indah bila kamu tidak melupakan fitrahmu yang nantinya sebagai pengatur rumah tangga. Pendidikan anak-anakmu kelak ada di tanganmu. Apakah mereka akan menjadi anak salih dan salihah atau sebaliknya. Kualitas dirimu saat ini akan menentukan kualitas anak keturunanmu kelak. Sadar yuk sadar, Non!
    Banyak di antara muslimah yang mengharuskan dirinya bekerja setelah capek-capek sekolah tinggi. Padahal tujuan sekolah itu sendiri bukanlah supaya kamu mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Kembalikan niatmu bahwa bersekolah dan menuntut ilmu itu adalah perintah Allah dalam rangka mencari ridho-Nya. Karena sungguh, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan (silakan kamu baca al-Quran surat al-Mujaadilah ayat 11 ya!).
    Allah telah memuliakan perempuan dengan tidak mewajibkannya menjadi pencari nafkah. Dengan kelembutannya, perempuan diberi amanah untuk mendidik anak-anak agar menjadi generasi Qurani. Di sinilah sebetulnya keberhasilan seorang perempuan itu dinilai. Bukan seberapa tinggi kedudukannya di kantor, bukan pula seberapa banyak gelar yang disandangnya. Namun sayang, banyak perempuan yang lupa. Gelombang emansipasi dan feminisme membuat muslimah lalai.
    Finally!
    Kemuliaan perempuan itu adalah ketika ia mempersiapkan dirinya untuk mengemban amanah sebagai tonggak peradaban. Kita rindu sosok-sosok seperti Shalahudin al-Ayubi, Muhammad al-Fatih, Usamah bin Zaid, Imam Bukhari, Imam Syafi’i dan banyak ulama dan ilmuwan lain. Mereka menjadi sosok yang mengguncang dunia bukan tanpa sebab. Di balik mereka ada sosok hebat bernama ibu. Tidak inginkah kita nantinya mempunyai anak-anak sekaliber mereka? Keren bin hebat banget tuh!
    Saya ingin, sangat ingin. Bagaimana denganmu? Karena itu yuk, kita benahi diri kita sedari dini. Buatlah diri kita pantas untuk menerima amanah anak sehebat itu. Karena sesungguhnya kualiatas anak merupakan cerminan dari kualitas orang tuanya, terutama ibunya. Bila al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel yang begitu tangguh, bukan tak mungkin pintu kota Roma ada di tangan anak-anak kita kelak, insya Allah. Rasulullah saw. sendiri yang menjanjikan bahwa kota Roma menanti untuk kita taklukkan. Rasulullah saw. pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, ”Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel” (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

    Image result for wanita muslimah berharga

    Sungguh, bekal apalagi yang kita rindukan selepas nyawa pergi dari tubuh kecuali anak-anak yang salih dan ilmu yang bermanfaat? Ketika remaja lain sibuk berhura-hura dan berbuat dosa, yuk kita juga sibuk menghadiri majelis ilmu dan menabung pahala. Yakinlah, ketika mereka nanti menangis karena anak-anaknya sulit diatur, kita akan tersenyum karena memiliki anak yang penurut terutama pada aturan Allah. Insya Allah. Semoga tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita semua. Yuk, mari kita terus berbenah!

    Sumber : Ria fariana (gaulislam/muslimahzone.com)
    Semoga bermanfaat ya postingan ku kali ini! Tunggu postingan ku selanjutnya!

    Seeyou, byebye!❤

    Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

     
    FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS